BINTUNI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Bintuni, Papua Barat, tengah merancang kebijakan subsidi transportasi atau angkutan guna menekan harga cabai rawit (rica) dan sejumlah komoditas pokok lainnya yang melonjak drastis di Pasar Sentral Bintuni.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Teluk Bintuni, Ongen Pattikawa, menjelaskan bahwa harga rica di pasaran saat ini telah menembus angka Rp200.000 hingga Rp220.000 per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papuabarat/foto/bank/originals/asdiasnd.jpg)
Faktor Penyebab Konjakan Harga
Lonjakan harga yang signifikan ini dipicu oleh beberapa kendala utama, di antaranya:
Pasokan Terbatas: Kebutuhan rica di Teluk Bintuni kini sangat bergantung pada pasokan dari Manokwari dan Manokwari Selatan. Sementara itu, jalur pasokan dari Sorong saat ini sedang tidak tersedia.
Faktor Cuaca Ekstrem: Kekeringan berkepanjangan yang terjadi selama kurang lebih enam bulan terakhir serta kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak buruk pada produksi pertanian. Akibatnya, banyak petani cabai keriting mengalami gagal panen.
Rencana Intervensi Pemerintah
Sebelumnya, para distributor mendatangkan rica dari Manokwari dengan harga berkisar antara Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Setelah ditambah keuntungan untuk pedagang pengecer, harga jual di tingkat konsumen menjadi sangat tinggi.
Sebagai langkah nyata untuk meringankan beban masyarakat dan menstabilkan harga, Pemkab Teluk Bintuni—melalui arahan Bupati Yohanis Manibuy—telah menggelar operasi pasar dan menyiapkan skema subsidi biaya transportasi jalur darat bagi distributor. Saat ini, rencana subsidi tersebut masih menunggu pembahasan lebih lanjut bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

